Beda Tafsir Soal Pasal 44 (1) KUHP

VONIS majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung yang memutuskan Ny. Aniek Qoriah Sriwijaya sakit jiwa dan harus dirawat di rumah sakit jiwa (RSJ), menuai berbagai pendapat. Sebagian orang menilai sakit jiwa yang dimaksud dalam Pasal 44 (1) KUHP itu adalah sakit jiwa bawaan, sementara Ny. Aniek sebelumnya tidak mengalami sakit jiwa, sehingga vonis itu tidak tepat.Namun, ada juga yang berpendapat vonis yang dijatuhkan majelis hakim PN Bandung, Senin (15/1), sudah tepat, karena sesuai Pasal 44 KUHP. Jadi, pada saat Ny. Aniek melakukan aksinya membunuh tiga orang anaknya itu, sebenarnya dia sedang mengalami sakit jiwa.

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Imam Safi’i, S.H., majelis hakim tetap memvonis Ny. Aniek bersalah melakukan pembunuhan sesuai dengan Pasal 338 KUHP. Namun, perbuatan Ny. Aniek itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Konsultan hukum kekerasan terhadap wanita dan anak, Hj. Marliana Sagala, S.H., memandang vonis tersebut kurang tepat, karena pasal yang dikenakan — yaitu Pasal 44 (1) KUHP — itu berlaku bagi seseorang yang jiwanya cacat dalam tumbuhnya, atau terganggu karena penyakit.

Menurut Hj. Marliana, cacat jiwa dalam tumbuhnya harus sudah ada sebelum perbuatan dilakukan, bukan sesudah perbuatan dilakukan. ”Jadi, cacat jiwa dalam tumbuhnya yang dimaksud Pasal 44 (1) KUHP bukanlah depresi berat, atau depresi psykosys atau gangguan jiwa berat seperti dikatakan saksi ahli,” kata mantan hakim di PN Bandung.

Dijelaskan, keterangan ahli adalah pendapat, bukan orang yang dapat menentukan gila tidaknya. Yang menentukan itu adalah fakta-fakta lain atau keadaan lain yang mengiringi perbuatannya, seperti cacat jiwa dalam tumbuhnya/gila, tidak sadar apa yang dilakukannya.

Tapi, kalau membunuh tiga anak secara berturut-turut dalam tenggang waktu 2 hari, dan hanya karena alasan ketakutan yang sangat terhadap kehidupan dan penghayatan diri, itu bukan orang gila/cacat jiwa dalam tumbuhnya.

”Jadi, rasa sayang yang berlebihan dan tentang ketakutan akan kehidupan selanjutnya dari anak-anak adalah bukan alasan orang tersebut memiliki cacat jiwa dalam tumbuhnya, karena perasaan itu dimiliki orang normal,” ujarnya.

Sudah tepat

Sementara itu, praktisi hukum, Dindin S. Moelani, S.H., mengatakan, vonis yang dijatuhkan majelis hakim sudah benar, karena sesuai dengan pendapat ahli, Ny. Aniek melakukan perbuatan tersebut dalam keadaan sakit ingatan. ”Hukum hanya mengadopsi informasi dari ahli. Kalau ahli mengatakan saat melakukan pembunuhan itu Ny. Aniek sedang sakit ingatan, berarti penerapan pasal 44 KUHP tersebut sudah tepat, karena pada kondisi sakit itulah bisa terbebas dari hukum,” katanya.

Lebih lanjut Dindin mengatakan, pada pasal 44 KUHP itu tidak ada batasan sakit jiwa permanen atau bukan, apalagi dalam praktik hukum tidak ada rumusan gila permanen atau tidak. Menurut dia, mengenai sakit gila permanen itu hanya ada pada rumusan para ahli kejiwaan dan kepentingannya pun untuk mencari kebenaran. Yaitu, apakah melakukannya itu pada saat sedang sakit atau tidak sakit.

Bagi mereka yang sakit tidak permanen, bisa saja dalam sebulan sakit, bulan berikutnya sembuh. Rumusan itu hanya ada di dunia kedokteran. Hukum hanyalah mengadopsi informasi dari ahli kedokteran. Dijelaskan, kasus seperti Ny. Aniek bukan baru pertama kali terjadi, dan tidak aneh. ”Kalau tidak sakit, mana ada orang yang ujug-ujug membunuh tiga putranya,” katanya. (Yedi Supriadi/ ”PR”)***

0 Responses to “Beda Tafsir Soal Pasal 44 (1) KUHP”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




SURVEY

Apakah Anda Merasa Perlu KUHP Di Perbaharui?
1) Ya
2) Tidak
3) Tidak Tahu

View Results
Make your own poll

SURVEY

Perlukan Pers Diatur Dalam R KUHP?
1) Perlu
2) Tidak Perlu
3) Tidak Tahu

View Results
Make your own poll

SURVEY

Masih Perlukah Pemerintah Dilindungi Dalam R KUHP?
1) Perlu
2) Tidak Perlu
3) Tidak Tahu

View Results
Make your own poll

SURVEY

Jika Pejabat Publik Melakukan Tindak Pidana, Perlukah Di Pidana Lebih Berat?
1) Perlu
2) Tidak Perlu
3) Tidak Tahu

View Results
Make your own poll

SURVEY

Perlukah R KUHP Mengatur Perlindungan Terhadap Tuhan?
1) Perlu
2) Tidak Perlu
3) Tidak Tahu

View Results
Make your own poll

SURVEY

Masih Perlukah Hukuman Mati Diatur Dalam R KUHP
1) Perlu
2) Tidak Perlu
3) Tidak Tahu

View Results
Make your own poll

Archieves

Calender

Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 86,197 hits

Flickr Photos

Photonic Symphony

Kuifmees / Crested Tit / Mésange huppée

6922

Lebih Banyak Foto

Guest Book

Banner

Aku Nggak Korupsi

Blogger Anti Korupsi

Dilarang Korupsi

Online Chat

RSS Tempo Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: